Definisi perikanan

Definisi perikanan

Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari pra-produksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran  yang dilaksanakan dalam suatu bisnis perikanan.

(UU perikanan no.31 tahun 2004).
Nah ada penjelasan sedikit tentang sumber daya ikan menurut UU perikanan No.31 tahun 2004:
  1. Pisces (ikan bersirip)
  2. Crustacea (udang, kepiting, rajungan, dan sebangsanya)
  3. Coelenterata (ubur ubur dan sebangsanya)
  4. Mollusca (kerang,tiram, cumi cumi, gurita, dan sebangsanya)
  5. Echinodermata ( tripang, bulu babi, dan sebangsanya)
  6. Amphibia (kodok dan sebangsanya)
  7. Reptilia ( buaya, penyu, kura kura, biawak, ular air, dan sebangsanya.
  8. mammalia (paus, lumba lumba, pesut dan sebangsanya)
  9. Algae ( rumput laut dan tumbuhan lain yang hidup didalam air)
  10. Biota perairan lainnya yang ada hubungannya dengan jenis jenis tersebut diatas.
Jadi, sumber daya perikanan itu bukan saja sumber daya yang berasal dari ikan spesies aslinya tetapi jenis jenis lain juga termasuk dalam sumber daya ikan seperti yang tertera diatas.

 

Pemanfaatan mikroorganisme pada keju

Latar Belakang

Bioteknologi terbagi menjadi 3 yaitu bioteknologi menggunakan mikroorganisme, kultur jaringan, dan rekayasa genetika. Bioteknologi yang menggunakan mikroorgenisme ( seperti bakteri, khamir ( yeast), dan kapang ) antara lain penemuan dan penyelesaian masalah pangan, obat-obatan, pembasmi hama tanaman, pencemaran, pembasmian hama tanaman, dan pemisahan logam dari bijih logam. Bioteknologi dibagi juga menjadi beberapa yaitu : bioteknologi dalam produksi pangan, bioteknologi dalam industri, bioteknologi dalam kedokteran dan produksi obat, bioteknologi dalam menyelesaikan masalah pencemaran, bioteknologi dalam pemberantasan hama dan bioteknologi dalam memperbanyak tanaman/kultur jaringan. Contoh bioteknologi dalam produksi pangan adalah keju.

Keju merupakan salah satu dari penerapan bioteknologi, yang menggunakan mikroorganisme. Keju merupakan makanan yag enak dan menyehatkan karena dapat disajikan secara langsung maupun diolah dahulu menjadi makanan maupun minuman yang memiliki banyak kandungan didalamnya. Keju memang bukan makanan yang berasal dari negeri kita. Namun dalam kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat sudah sangat akrab bahkan mungkin menjadi sajian wajib menu harian. Walaupun harganya relatif mahal, para penikmat keju selalu ketagihan. Godaan rasanya yang gurih dan dengan aroma khas menjadikan keju selalu dicari oleh penggemarnya. Belum lagi kandungan nutrisinya mulai protein, vitamin, kalsium, zat besi, kalori dan lemak di sinilah gudangnya. Oleh karena itu mari kita mengenal keju lebih dekat dan buktinya sendiri kelezatannya.

keju-300x200

  Sejarah Pembuatan Keju

Keju sudah diproduksi sejak zaman prasejarah. Tidak ada bukti pasti dimana pembutan keju pertama kali dilakukan di Eropa, Asia Tengah, maupun Timur Tengah, tetapi praktek pembuatan keju menyebar ke Eropa sebelum zaman romawi kuno. Menurut Pliny, pembuatan keju telah menjadi usaha yang terkoordinasi pada masa Kekaisaran Romawi. Perkiraan awal adanya pembuatan keju adalah antara 8000 SM ( ketika domba mulai diternakkan ) sampai 3000 SM.

Pembuatan keju pertama diperkirakan adalah manusia di Timur atau suku – suku nomaden di Asia Tengah. Bukti arkeologis pertama tentang pembuatan keju ditemukan pada mural di makam Mesir Kuno, yang dibuat pada 2000 SM. Keberadaan keju dimulai ketika seorang pengembala sapi menemukan susu yang disimpan dalam tas  dari kulit kambing, membeku dan terfermentasi ketika tertinggal di gua. Seorang pria lapar memakan gumpalan susu tadi dan menyukai rasanya. Sejak itu susu sengaja difermentasi untuk menghasilkan makanan yang kemudian kita kenal sebagai keju. Dahulu kala para petani menyimpan sisa susu dan membiarkannya menggumpal. Setelah itu, gumpalan keju dipukul-dipukul menggunakan tangkai pohon, dibungkus, dan ditindih dengan batu sambil dibiarkan menjadi kering di terik matahari. Untuk memberi rasa, keju kemudian diperciki dengan garam.

Kekaisaran Romawi menyebarkan cara teknik pembuatan keju yang seragam di Eropa, serta memperkenalkan pembuatan keju ke daerah yang belum mengetahuinya. Dengan kejatuhan Kekaisaran Romawi, variasi pembuatan keju di Eropa semakin banyak. Dengan daerah-daerah tertentu mengembangkan teknik pembuatan keju yang berbeda-beda. Perancias dan Itali masing-masing saat ini memiliki sekitar 400 macam keju. Namun, kemajuan seni pembuatan keju mulai menurun beberapa abad setelah kejatuhan Roma. Banyak keju yang dikenal pada masa kini pertama kali didokumentasikan ada zaman pertengahan atau setelahnya, misalnya keju Cheddar pada 1500 M, keju Parmesan pada 1597, keju Gouda pada 1697, dan keju Camembert pada 1791. Di abad 20, para industriawan mengubah cara tradisional itu dan memperkenalkan banyak jenis keju baru yang makin kaya rasanya dan creamy, sementara produksi tradisional yang digarap para peternak pun semakin berkurang. Keju juga menghasilkan energi yang besar. Didalamnya terkandung kalsium dan phosphorus, terutama keju-keju yang dimasak. Keju sangat baik untuk menggantikan susu terutama bagi mereka yang tidak menyukai susu. Pengetahuan tentang keju dibawa oleh seluruh warga Romawi, termasuk anggota pasukan bersenjata. Selain berjasa kepada tanah air, pasukan ini juga bertanggung jawab atas penyebaran teknik membuat keju ke seluruh penjuru Eropa. Pasalnya, legiuner romawi yang telah habis masa tugasnya mendapatkan tunjangan pension berupa sepetak tanah yang ada di salah satu prinsip kerajinan ini. Kebanggan akan peradaban romawi, membuat memperkenalkan kebudayaan mereka ke tanah yang mereka tempati, termasuk teknik ini.

Louis Paster meneliti tentang efek mikro organisme yang hidup di dalam susu. Memang Pasteur tidak meneliti lebih dalam bagaimana hubungannya dengan evolusi keju, namun temannya Metchinkoff menelitinya dan menemukan cara untuk membunuh pathogen di dalam susu. Belakangan Pasteur memberi nama pasteurisasi pada pemanasan singkat untuk membunuh bakteri yang merugikan.

Pembuatan Keju

Pada  prinsipnya keju dibuat melalui 3 (tiga),

  1. Tahap pertama, koagulasi, susu segar dipanaskan (pasterusisasi), substansi yang bersifat asam atau kultur bakteri tertentu ditambahkan. Tujuan dari proses ini supaya laktosa dirubah menjadi asam laktat (acid coagulation) sehingga terbentuk endapan/gumpalan menyerupai tahu.
  2. Tahap kedua, pembentukan dan penggaraman, tahu susu (curd) yang terbentuk selama proses koagulasi dipadatkan di dalam cetakan sesuai keinginan. Kemudian penggaraman, caranya dengan mencelupkan tahu susu ke dalam larutan yang mengandung garam 250-350 gram perliter air. Tujuan dari penggaraman ini supaya mempercepat proses pengeringan, memberikan aroma juga berfungsi sebagai pengawet, karena garam memperlambat proses proliferasi mikroorganisme.
  3. Tahap ketiga, proses pematangan keju dilakukan sebaiknya dilakukan di dalam ruangan keringdengan kisaran temperatur 0°-32° c. Lama proses pematangan tergantung dari jenis kejuyang diinginkan. Untuk keju lunak memerlukanwaktu fermentasi sekitar 4 minggu, namun untuk keras memerlukan waktu 2-3 tahun. Selama proses fermentasi inilah komponen dan citarasa keju terbentuk. Lama pengeringan sangat variatif, tergantung pada temperatur dan kelembaban udara. Itu makanya hasil keju sering berbeda-beda dari segi tekstur, warna, dan keharuman. Tetapi ini tentunya berlaku pada keju yang dibuat secara tradisional, bukan yang diolah di pabrik dengan peralatan modern.

Dalam pembuatan keju ada beberapa hal penting yang perlu diketahui :

  1. Bahan : susu penuh atau skim milk
  2. Kadar : air mempengaruhi sifat fisik hard cheese 35 %, soft cheese 50-80%
  3. Pematangan dipengaruhi oleh bakteri, enzim, suhu dan kelembaban ruangan, mempunyai pengaruh terhadap aroma, rasa serta struktur fisik
  4. Tiap keju menggunakan bakteri yang berlainan misal:

Cheddar cheese : streptococcus lactis lactobacillus

Swiss cheese      : bacterim shermani.

Gizi yang terkandung di dalam Keju

Tahap pemadatan fermentasi selama proses pembuatan semakin meningkakan nilai gizi keju. Kandungan proteinmisalnya keju lebih tinggi jika dibandingkan susu segar 100 gram keju rata-rata mengandung 22,8 gram protein sedangkan susu hanya 3,2 per 100 gram. Begitu juga dengan kandungan kalsium keju mengandung 777 mg dan susu segar hanya sekitar 143 mg setiap 100 gr berat bahan. Selain kandungan nutrisi di atas juga tinggi karbohidrat, lemak, zat besi dan fosfor. Keju merupakan makanan yang mengandung konsentrat nutrisi. Kandungan gizinya sangat baik untuk anak-anak yang ada dalam masa pertumbuhan. Juga untuk kaum vegetarian, yaitu mereka hanya memakan sayur-sayuran dan berpantnag daging, keju dapat digunakan sebagai pengganti daging karena kandungan proteinnya yang tinggi. Sebagai contoh, pada keju keras, seperti chedar. Setiap 100 gramnya menyuplai 36% protein, 80% kalsium, 34% lemak dari total kebutuhan gizi yang direkomendasikan perharinya. Konversi susu menjadi keju memberikan keuntungan tersendiri karena sebagian besar lemak dan protein telah di cerna oleh enzim dalam proses pembuatan keju sehingga lebih mudah diterima oleh sistem pencernaan manusia. Dari beberapa penelitian mengkonsumsi keju dapat mengurangi gejala sindrom pra menstruasi dan memperkuat tulang kandungan berbagai mineral yang tinggi pada keju sangat baik untuk melindungi gigi. Walauupun banyak manfaat bagi penderita laktosa intoleran keju pantang di konsumsi. Kandungan lemak dan garam yang tinggi dikarenanya disarankan bagi penderita penyakit ginjal, jantung, kantung empedu dan penyakit. Sebaliknya membatasi jumlah konsumsi keju. Keju kaya akan asam amino esensial dan jumlah besar mineral dan vitamin.

Klasifikasi Keju

Keju dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Menurut Kasikowski dan Mistry (1997), keju dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan komposisisnya, yaitu keju alami, keju proses, dan keju imitasi. Keju alami adalah keju sebenarnya, keju proses adalah keju buatan yang di dalamnya mengandung 50-90% keju alami, sedangkan keju imitasi adalah keju buatan yang terbuat dari bahan selain susu dan aroma keju diperoleh dari aroma buatan atau keju alami. Menurut Sumarjono (1987), keju dapat dikelompokkan menjadi dua berdasarkan teksturnya, yaitu keju keras dan keju lunak. Keju keras masih dapat dikelompokan lagi menjadi sangat keras dan agak keras. Keju sangat keras ada yang dengan lubang (keju cheddar) dan ada yang tanpa lubang (keju swiss). Sedangkan keju agak keras ada yang dimatangkan oleh jamur (keju requofort) dan ada yang dimatangkan oleh bakteri (keju brick). Untuk keju lunak, pengelompokan dilakukan menjadi tiga, yaitu keju yang dimatangkan oleh bakteri (keju limburger), oleh jamur (keju camembert), dan keju yang tanpa dimatangkan (keju cottage). Berdasarkan kematangan, keju dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu keju mentah dan keju matang (ripened cheese). Keju mentah merupakan keju yang diperoleh dari pembuatan keju sampai proses perendaman garam. Keju mentah dibedakan menjadi 3, yaitu keju cottage, keju cream, dan keju cooking/ no- melt. Keju matang merupakan keju mentah yang diperam selama beberapa bulan (Sumarjono, 1987).

Beberapa jenis keju

1.      Camembert. Keju lunak dari Perancis ini pertama kali di buat pada abad ke-18 di     desa Normandia. Comembert terbuat dari susu sapi, teksturnya sangat lembut dengan warna creamy yellow. Keju ini mengandung lemak antara 45% – 50%. Selain enak digado atau sebagai table cheese, juga cocok untuk campuran omelette, isi souffle, pancake atau apple pie.

2.         Ricotta. Keju Ricotta berasal dari Italia. Keju lunak dari susu sapi ini teksturnya sangat rapuh. Kandungan lemaknya termasuk tinggi, mencapai 65 %. kombinasi rasa yang gurih dan lezat dengan aroma harum menjadikan terasa pas dipadukan dengan aneka masakan pasta Italia seperti Lasagna dan Spaghetti.

3.         Brie. Brie termasuk kategori soft cheese dari Preancis. Ciri khas keju ini adalah kulit luarnya berwarna putih dan bagian dalamnya lembut meleleh. Aromanya tajam dan kandungan lemaknya tinggi (45%). Brie sangat cocok dipakai sebagai bahan campuran salad, dimakan dengan buah olive maupun pickle.

4.            Cream Cheese. Di pasaran kita dapat menemukan dua macam cream cheese, double cream cheese adalah pilihan pertama dengan kandungan lemak 65% dan cream cheese(45% lemak) pilihan lainnya. Berbeda dengan jenis keju lainya, cream cheese memiliki rasa yang sedikit asam. Umumnya keju ini digunakan pada hidangan penutup, misalnya chesse cake, sebagai isi pie, atau dimakan bersama potongan buah-buahan. Mozzarella. Mozzarella adalah keju Italia yang aslinya berasal dari susu kerbau liar. Keju lunak dengan kandungan lemak antara 40 – 50% ini sangat sepesifik sifatnya. Mozzarella akan meleleh ketika dipanggang, sangat cocok untuk topping pizza maupun campuran fritata.

5.            Edam. Salah satu keju asal Belanda yang popular. Teksturnya keras dengan aroma mirip kacang. Kandungan lemak keju ini sekitar 40%. Yang membedakan dengan keju lain adalah kemasannya yang selalu terbungkus lapisan sejenis lilin berwarna merah. Edam sangat cocok untuk campuran kue kering seperti aneka cookies atau taburan pada hidangan panggang.

6.            Parmesan. Salah satu jenis keju keras dari kota Parma, Italia. Pada umumnya berbentuk silinder dengan warna kuning muda. Teksturnya keras, cocok untuk keju parut. Aroma Parmesan cukup tajam karena proses pemeraman yang cukup lama, antara 14 bulan sampai 4 tahun. Keju ini sangat cocok untuk taburan pizza, soup maupun olahan aneka pasta. Kandungan lemak keju sekitar 61%.

7.            Cheddar. Salah satu jenis keju asal Inggris yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Rasanya yang lezat dengan aroma tidak terlalu tajam menjadikan cheddar cocok digunakan untuk masakan apa saja. Sajian casseroles, soup, isi sandwich dan salad terasa lebih lezat dengan penambahan keju ini. Cheddar mengandung lemak 48% dengan masa pemeraman 9-24 bulan.

8.            Emmenthal. Asal dari keju ini berasal dari Swiss, salah satu keju keras yang cukup populer. Emmenthal memiliki karakteristik berbeda dengan keju-keju lainya, bentuknya unik karena jika dipotong akan terlihat lubang-lubang yang terbentuk selama proses fermentasi. Keju ini banyak disuka karena cita rasanya lembut dan aromanya yang kaya. Emmenthal cocok dihidangkan sebagai keju meja dengan disertai segelas anggur

Tips Memilih dan Menyimpan Keju

Keju merupakan makanan favorit anak yang tinggi kalori dan protein. kalori dan protein dibutuhkan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Selayaknya anda tahu, bagaimana cara memilih dan menyimpan keju agar aman dikonsumsi anak.

  1. Perhatikan tanggal kadaluwarsanya pada saat membeli keju
  2. Makin lunak tekstur keju, makin cepat keju rusak dan berbau, misalnya keju jenis cottage chesse dan cream chesse
  3. Pilihlah keju yang dibungkus satu per satu agar tahan lama. bungkus plastik biasanya dilapisi lilin sehingga keju tak ceat rusak oleh suhu yang terlalu dingin
  4. Bila keju tak habis digunakan,masukkan dalam wadah tertutup, lalu simpan di kulkas. Sebaiknya jangan disimpan dalam suhu ruang karena keju akan cepat rusak
  5. Untuk jenis keju yang keras, parut sisanya, kemudian masukkan dalam kantung plastik atau wadah tertutup, simpan di freezer (tahan2-3 bulan)
  6. Ciri keju yang rusak dan tak layak dikonsumsi yaitu bila disimpan di kulkas tanpak kering dan retak-retak, sedangkan bila disimpan di suhu ruang akan berjamur dan berlendir.

BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Latar Belakang

Rumput laut (sea weeds) yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal sebagai Algae sangat populer dalam dunia perdagangan akhir – akhir ini.

Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira – kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran dan obat – obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun dengan perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput lautpun semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas.

Kapan pemanfaatan rumput laut di Indonesia tidak diketahui. Hanya pada waktu bangsa Portugis datang ke Indonesia sekitar tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran. Baru pada masa sebelum perang dunia ke – 2, tercatat bahwa Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika Serikat, Denmark, dan Perancis.

Sekarang ini rumput laut di Indonesia banyak dikembangkan di pesisir pantai Bali dan Nusa Tenggara. Mengingat panjangnya garis pantai Indonesia (81.000 km), maka peluang budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Jika menilik permintaan pasar dunia ke Indonesia yang setiap tahunnya mencapai rata – rata 21,8 % dari kebutuhan dunia, sekarang ini pemenuhan untuk memasok permintaan tersebut masih sangat kurang, yaitu hanya berkisar 13,1%. Rendahnya pasokan dari Indonesia disebabkan karena kegiatan budidaya yang kurang baik dan kurangnya informasi tentang potensi rumput laut kepada para petani.

Image

Kandungan

Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar – agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan – bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung jodium.

Manfaat

1. Agar – agar

Masyarakat pada umumnya mengenal agar – agar dalam bentuk tepung yang biasa digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi orang tidak tahu secara pasti apa agar – agar itu. Agar – agar merupakan asam sulfanik yang meruapakan ester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggang jenis Agarophytae. Agar – agar ini sifatnya larut dalam air panas dan tidak larut dalam air dingin.

Sekarang ini penggunaan agar – agar semakin berkembang, yang dulunya hanya untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dalam industri tekstil, kosmetik, dan lain – lain. Fungsi utamanya adalah sebagai bahan pemantap, dan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat gel. Dalam industri, agar – agar banyak digunakan dalam industri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat. Dalam industri farmasi bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkus kapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi. Dalam industri tekstil dapat digunakan untuk melindungi kemilau sutera. Dalam industri kosmetik, agar – agar bermanfaat dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun. Selain itu masih banyak manfaat lain dari agar – agar, seperti untuk pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, dan pengalengan ikan dan daging.

2. Keraginan

Keraginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1 – 4 glikosilik. Ciri kas dari keraginan adalah setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%.

Kegunaan keraginan hampir sama dengan agar – agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Keraginan banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam, jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk pasta gigi dan obat – obatan. Selain itu juga dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik dan cat.

3. Algin (Alginat)

Algin ini didapatkan dari rumput laut jenis algae coklat. Algin ini merupakan polimer dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dalam bentuk tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang larut dalam air.

Kegunaan algin dalam industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi, dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Algin dalam industri banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, dan puding. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, dan filter. Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut,. Dan dalam industri lain seperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.

Fungsi TON dalam Ekologi Rumput Laut

Rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami bukan hasil budidaya. Mereka tersebar di perairan sesuai dengan lingkungan yang dibutuhkannya. Rumput laut memerlukan tempat menempel untuk menunjang kehidupannya. Di alam tempat menempel ini bisa berupa karang mati, cangkang moluska, dan bisa juga berupa pasir dan lumpur.

Selain itu rumput laut sangat membutuhkan sinar matahari untuk melangsungkan proses fotosintesa. Banyaknya sinar matahari ini sangat dipengaruhi oleh kecerahan air laut. Supaya kebutuhan sinar matahari tersedia dalam jumlah yang optimal maka harus diatur kedalaman dalam membudidayakannya. Kedalaman idealnya adalah berada 30 – 50 cm dari permukaan air.

Proses fotosintesa rumput laut tidak hanya dipengaruhi oleh sinar matahari saja, tetapi juga membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara ini banyak didapatkan dari lingkungan air yang diserap langsung oleh seluruh bagian tanaman. Untuk mensuplai unsur hara ini biasanya dilakukan pemupukan selama budidaya. Untuk membantu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang optimal dan supaya cepat diserap oleh rumput laut ini, maka harus disediakan unsur hara yang sudah dalam keadaan siap pakai (ionik). Unsur hara ini banyak dikandung dalam TON (Tambak Organik Nusantara).

TON (Tambak Organik Nusantara), mengandung segala bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pertumbuhan rumput laut. Baik menyediakan unsur hara mikro lengkap, juga menyediakan unsur makro. Selain itu TON juga akan meningkatkan kualitas rumput laut, karena akan menurunkan tingkat pencemaran logam berat yang juga akan terserap oleh rumput laut. Jika logam berat ini tidak ada yang mengikat, maka akan ikut terserap dalam proses absorbsi unsur hara dari rumput laut, sehingga sangat berbahaya bagi konsumen. Dengan adanya TON, logam berat ini akan terikat dalam bentuk senyawa dan akan mengendap atau sulit terserap oleh proses absorbsi.

Pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi oleh jumlah oksigen terlarut (DO), salinitas (kadar garam) dan temperatur. Kandungan Oksigen selain dipengaruhi oleh gerakan air juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Sehingga TON juga sangat penting untuk menunjang ketersediaan oksigen di perairan. Temperatur ideal bagi pertumbuhan rumput laut adalah berkisar 200 – 280 C

Dengan tersedianya unsur hara dalam jumlah yang optimal dan kondisi lingkungan yang seimbang karena pengaruh TON, maka kualitas dan kuantitas bahan – bahan yang dikandung oleh rumput laut juga akan meningkat.

Selain itu, pemakaian TON untuk budidaya rumput laut juga akan membantu mengikat senyawa – senyawa dan unsur – unsur berbahaya dalam perairan. Senyawa – senyawa dan unsur-unsur ini jika teradsorbsi dalam sistem metabolisme rumput laut, akan mengganggu pertumbuhan rumput laut dan juga akan menurunkan kualitas hasilnya. Selain itu jika rumput laut ini akan digunakan untuk bahan makanan, akan sangat berbahaya bagi yang menkonsumsinya. Kandungan senyawa karbon aktif dari TON akan sangat membantu untuk mereduksi senyawa-senyawa dan unsur – unsur berbahaya tersebut.

Budidaya Rumput Laut dan Cara Pemakaian TON (Tambak Organik Nusantara)

Dalam menjalankan budidaya rumput laut, pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi budidaya. Sebaiknya lokasi budidaya diusahakan di perairan yang tidak mengalami fluktuasi salinitas (kadar garam) yang besar dan bebas dari pencemaran industri maupun rumah tangga. Selain itu pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomis dan tenaga kerja.

Budidaya rumput laut dapat dilakukan di areal pantai lepas maupun di tambak. Dalam pembahasan sekarang ini kita akan menekankan pada budidaya di tambak. Hal ini mengingat peran TON yang tidak efektif jika diperairan lepas (pantai). Untuk budidaya perairan lepas dibedakan dalam beberapa metode, yaitu :

1. Metode Lepas Dasar

Dimana cara ini dikerjakan dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali – tali yang dipatok secara berjajar – jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30 – 60 cm. Rumput laut ditanam di dasar perairan.

2. Metode Rakit

Cara ini dikerjakan di perairan yang kedalamannya lebih dari 60 cm. Dikerjakan dengan mengikat bibit rumput di tali – tali yang diikatkan di patok – patok dalam posisi seperti melayang di tengah – tengah kedalaman perairan.

3. Metode Tali Gantung

Jika dua metode di atas posisi bibit – bibit rumput laut dalam posisi horizontal (mendatar), maka metode tali gantung ini dilakukan dengan mengikatkan bibit – bibit rumput laut dalam posisi vertikal (tegak lurus) pada tali – tali yang disusun berjajar.

Pemakaian TON dengan 3 cara di atas hanya dapat dilakukan dengan sistem perendaman bibit. Karena jika TON diaplikasikan di perairan akan tidak efektif dan akan banyak yang hilang oleh arus laut. Metode perendaman bibit dilakukan dengan cara :

1. Larutkan TON dalam air laut yang ditempatkan dalam wadah .

2. Untuk 1 liter air laut diberikan seperempat sendok makan (5 – 10 gr) TON dan tambahkan 1 – 2 cc Hormonik.

3. Rendam selama 4 – 5 jam, dan bibit siap ditanam.

Pemakaian TON akan sangat efektif jika diaplikasikan dalam budidaya rumput laut di tambak. Cara budidaya di tambak ini dapat dilakukan dengan metode tebar. Caranya adalah sebagai berikut :

1. Tambak harus dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran.

2. Tambak dikeringkan dahulu.

3. Taburkan kapur agar pH-nya netral ( 0,5 – 2 ton per-hektar tergantung kondisi keasaman lahan).

4. Diamkan selama 1 minggu.

5. Aplikasikan TON, dengan dosis 1 – 5 botol per-hektar (untuk daerah – daerah yang tingkat pencemarannya tinggi, dosisnya ditinggikan), dengan cara dilarutkan dengan air dahulu, kemudian disebar secara merata di dasar tambak.

6. Diamkan 1 hari

7. Masukkan air sampai ketinggian 70 cm.

8. Tebarkan bibit rumput laut yang sudah direndam dengan TON dan hormonik seperti cara perendaman di atas. Dengan kepadatan 80 – 100 gram/m2.

9. Bila dasar tambak cukup keras, bibit dapat ditancapkan seperti penanaman padi.

10. Tidak perlu ditambah pupuk makro.

Pemeliharaan dan aplikasi TON (Tambak Organik Nusantara) susulan.

Selama budidaya, harus dilakukan pengawasan secara kontinyu. Khusus untuk budidaya di tambak harus dilakukaan minimal 1 – 2 minggu setelah penebaran bibit, hal ini untuk mengontrol posisi rumput laut yang ditebar. Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan mengumpul di areal tertentu, jika demikian harus dipisahkan dan ditebar merata lagi di areal tambak.

Kotoran dalam bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat pada tanaman, apalagi pada perairan yang tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka tanaman harus digoyang – goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari kotoran yang melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut. Beberapa tumbuhan laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, dan Enteromorpha sering membelit tanaman. Tumbuhan – tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan dan dipisahkan dari rumput laut agar tidak menurunkan kualitas hasil. Caranya dengan mengumpulkannya di darat. Bulu babi, ikan dan penyu merupakan hewan herbivora yang harus dicegah agar tidak memangsa rumput laut. Untuk menghindari itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah budidaya. Untuk budidaya di tambak di lakukan dengan memasang jaring di saluran pemasukan dan pengeluaran.

Pemanenan

Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara dan waktu yang tepat agar diperoleh hasil yang sesuai dengan permintaan pasar secara kualitas dan kuantitas.

Tanaman dapat dipanen setelah umur 6 – 8 minggu setelah tanam. Cara memanen adalah dengan mengangkat seluruh tanaman rumput laut ke darat. Rumput laut yang dibudidayakan di tambak dipanen dengan cara rumpun tanaman diangkat dan disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih lanjut. Atau bisa juga dilakukan dengan cara petik dengan memisahkan cabang – cabang dari tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya sedikit keraginan dan pertumbuhan tanaman induk untuk budidaya selanjutnya akan menurun.

Jika rumput laut dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan diperoleh perbandingan berat basah dan berat kering 8 : 1, dan jika dipanen pada usia dua bulan biasanya akan didapat perbandingan 6 : 1. Untuk jenis gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 – 2000 kg rumput laut kering per- hektarnya. Diharapkan dengan penggunaan TON (Tambak Organik Nusantara) akan meningkat sekitar 30 – 100 %.